BA’DA Shubuh tadi, sepulang dari masjid saya biasanya langsung menuju
kamar Aufa (9 th) dan Izza (6 th), anak pertama dan kedua saya untuk
membangunkan mereka berdua. Namun karena anak ketiga saya sudah bangun,
saya pun mengajaknya untuk membangunkan kedua kakaknya.
“Ayo de, kita bangunkan kakak dan teteh!” Ajak saya.
Saya mengajaknya berbicara dengan menggunakan panggilan kesayangan
saya dan istri untuk mereka bertiga. Panggilan kakak untuk Aufa, teteh
untuk Izza dan ade atau de untuk Watsiq.
“Egh…egh” Jawab de Watsiq. Lalu dengan wajah ceria, ia
beranjak dari tempat tidurnya. Maklum, ia baru berusia 21 bulan, tapi ia
sudah mengerti apa yang saya ucapkan.
Saya pun menyambutnya dengan tangan kanan saya, lalu memegangnya. Ade
watsiq nampak bersemangat. Ia langsung menghampiri kedua kakaknya yang
masih tertidur pulas dengan impian yang indah.
Singkat cerita, De Watsiq berhasil membangunkan kedua kakaknya.
Walaupun terjadi sedikit insiden. Karena tanpa saya duga, ia
membangunkan kakak pertamanya dengan gigitan kecil di lengan.
“Disayang dong kakaknya ya!” Kata saya. Ia pun lalu
mengusap-ngusap kakaknya. Kemudian setelah itu mengulurkan tangannya,
lalu mencium tangan kakaknya sebagai tanda permohonan maaf.
Serasa mendengar petir di siang hari, kaget bukan kepalang. Tiba-tiba De Watsiq berceloteh, “Jing..jing…”
Begitulah saya mendengar celotehan De Watsiq berkali-kali. Pikir saya,
yang ia maksud adalah sebuah kata-kata kasar, yakni anjing. Karena
memang ia masih mengucapkan beberapa kata hanya dengan suku kata
akhirnya saja.
“Bilang apa sayang? Tanya saya. Ia pun mengulanginya
berkali-kali, “Jing…jing” Katanya sambil sesekali mengarahkan tangannya
ke sebuah photo orang di kalender yang ada di kamar kedua kakaknya.
“Yang, dengar ga? kenapa Ade Watsiq bisa ngobrol seperti itu?” Tanya saya kepada istri yang sedang di depan layar notebook mungilnya. Saya memang biasa memanggilnya dengan panggilan Yang. “Iya, dengar dari luar mungkin.” Ujar istri saya.
Sebenarnya saya akan memakluminya bila itu diucapkan sambil menunjuk
gambar atau wujud binatang yang dimaksud. Tapi ini kan celotehan, dan
itu adalah hal yang tidak baik, pikir saya.
“Jing…, jing...” Ia pun terus mengulanginya, bahkan kali ini
pun ia berkali-kali menunjuk kalender yang ada photo pak AG (mohon maaf
bila saya menuliskannya dengan inisial) yang sedang mencalonkan diri
jadi caleg. Aufa sendiri yang memasang kalender tersebut di kamarnya. “Ini kalender kakak, karena ngasihnya juga ke kakak” katanya. Kata-kata itu seolah pertanda bahwa siapapun tidak boleh mengganggu gugat pemasangan kalender tersebut di kamarnya.
“Ade, ga boleh bilang gitu, meng saja ya..!”
BERSAMBUNG
