Inspirasi dari Celoteh Seorang Bocah

Oleh: Ary Herawan, ary.herawan@gmail.com

BA’DA Shubuh tadi, sepulang dari masjid saya biasanya langsung menuju kamar Aufa (9 th) dan Izza (6 th), anak pertama dan kedua saya untuk membangunkan mereka berdua. Namun karena anak ketiga saya sudah bangun, saya pun mengajaknya untuk membangunkan kedua kakaknya.
“Ayo de, kita bangunkan kakak dan teteh!” Ajak saya.

Saya mengajaknya berbicara dengan menggunakan panggilan kesayangan saya dan istri untuk mereka bertiga. Panggilan kakak untuk Aufa, teteh untuk Izza dan ade atau de untuk Watsiq.

“Egh…egh” Jawab de Watsiq. Lalu dengan wajah ceria, ia beranjak dari tempat tidurnya. Maklum, ia baru berusia 21 bulan, tapi ia sudah mengerti apa yang saya ucapkan.

Saya pun menyambutnya dengan tangan kanan saya, lalu memegangnya. Ade watsiq nampak bersemangat. Ia langsung menghampiri kedua kakaknya yang masih tertidur pulas dengan impian yang indah.

Singkat cerita, De Watsiq berhasil membangunkan kedua kakaknya. Walaupun terjadi sedikit insiden. Karena tanpa saya duga, ia membangunkan kakak pertamanya dengan gigitan kecil di lengan.

“Disayang dong kakaknya ya!” Kata saya. Ia pun lalu mengusap-ngusap kakaknya. Kemudian setelah itu mengulurkan tangannya, lalu mencium tangan kakaknya sebagai tanda permohonan maaf.
Serasa mendengar petir di siang hari, kaget bukan kepalang. Tiba-tiba De Watsiq berceloteh, “Jing..jing…” Begitulah saya mendengar celotehan De Watsiq berkali-kali. Pikir saya, yang ia maksud adalah sebuah kata-kata kasar, yakni anjing. Karena memang ia masih mengucapkan beberapa kata hanya dengan suku kata akhirnya saja.

“Bilang apa sayang? Tanya saya. Ia pun mengulanginya berkali-kali, “Jing…jing” Katanya sambil sesekali mengarahkan tangannya ke sebuah photo orang di kalender yang ada di kamar kedua kakaknya.

“Yang, dengar ga? kenapa Ade Watsiq bisa ngobrol seperti itu?” Tanya saya kepada istri yang sedang di depan layar notebook mungilnya. Saya memang biasa memanggilnya dengan panggilan Yang. “Iya, dengar dari luar mungkin.” Ujar istri saya.

Sebenarnya saya akan memakluminya bila itu diucapkan sambil menunjuk gambar atau wujud binatang yang dimaksud. Tapi ini kan celotehan, dan itu adalah hal yang tidak baik, pikir saya.

Jing…, jing...” Ia pun terus mengulanginya, bahkan kali ini pun ia berkali-kali menunjuk kalender yang ada photo pak AG (mohon maaf bila saya menuliskannya dengan inisial) yang sedang mencalonkan diri jadi caleg. Aufa sendiri yang memasang kalender tersebut di kamarnya. “Ini kalender kakak, karena ngasihnya juga ke kakak” katanya. Kata-kata itu seolah pertanda bahwa siapapun tidak boleh mengganggu gugat pemasangan kalender tersebut di kamarnya.

“Ade, ga boleh bilang gitu, meng saja ya..!”

BERSAMBUNG