Perkembangan Islam di Jepang Halal Tourism, Halal Hotel, Halal Café, hingga Halal Karaoke

Penulis: Hilda Multi Artarina

Bulan Maret 2015 ini menandai enam bulan masa yang sudah saya jalani untuk tinggal dan belajar di Tokyo. Saat masa persiapan berangkat ke Jepang, salah satu hal yang saya khawatirkan adalah bagaimana kehidupan kami sebagai pelajar muslim di Tokyo nanti. Teringat kembali pengalaman saya selama satu bulan di Osaka pada 2012 lalu saat mengikuti program dari salah seorang arsitek Jepang, dimana saat itu cukup sulit untuk memperoleh makanan halal. Setiap pagi saya biasa sarapan dengan menu yang sama: nasi putih, ikan panggang dan telur goreng. Sebagian dari menu tersebut saya simpan dalam lunch box untuk bekal makan siang di kantor kontraktor tempat saya training. Sedangkan saat makan malam saya sering membeli buah pisang, nasi instan dan telur mentah di swalayan untuk kemudian direbus menggunakan heater Hotel ^^. Sempat khawatir juga, apakah di Tokyo nanti saya harus menghadapi situasi yang sama seperti saat di Osaka?

Namun setelah rajin menjelajah lewat internet, saya mulai agak lega. Di University of Tokyo tempat saya akan belajar, ternyata menyediakan makanan halal di kantin kampus. Alhamdulillah… bersyukur sekali ^^

kunjungan pelajar SMP
Kunjungan pelajar sekolah menengah ke Tokyo Camii Masjid
Photo courtesy: Tokyo Camii Facebook page
Setelah tiba di Tokyo, saya semakin bersyukur karena saat ini perkembangan Islam dan kesadaran masyarakat Jepang akan kebutuhan Muslim, terutama yang menyangkut halal-haram makanan, semakin meningkat. Saat closing ceremony dan final party, Sensei di kelas bahasa Jepang saya berbaik hati menyediakan makanan berbahan dasar ikan dan menunjukkan mana saja makanan atau minuman yang harus saya hindari walau tanpa saya jelaskan sebelumnya. Teman-teman di Lab saya yang mayoritas non-muslim dan berasal dari berbagai negara pun sangat membantu. Semisal membacakan komposisi snack yang ditulis dengan huruf Kanji atau bersedia memasak dua jenis makanan (halal dan non-halal) walau tanpa diminta saat membawa hasil masakan ke Lab.

Dr Zakaria Ziyad, kepala Lembaga Kaum Muslimin, di Jepang mengungkapkan bahwa sebagian data statistik menunjukkan, dalam sehari sekitar 10 WN Jepang masuk Islam (http://www.muslimdaily.net/, 26 Agustus 2014). Saat pertama kali berkunjung ke Masjid Camii Tokyo, saya sempat terheran-heran menyaksikan rombongan warga Jepang yang berduyun-duyun ikut masuk ke Masjid. Rupanya mereka adalah peserta tour yang memang khusus datang untuk mengetahui Islam lebih jauh. Tour semacam ini rupanya cukup sering diselenggarakan. Di lain waktu yang saya temui adalah rombongan pelajar sekolah menengah pertama. Bahkan saat ini pun tengah dirintis upaya untuk pendirian sekolah Islam pertama di Jepang.

Selain itu, salah satu hal yang cukup menarik dari perkembangan Islam di sini adalah upaya pemerintah Jepang yang saat ini sedang menggencarkan promosi “Halal Tourism” yang ditujukan bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Dunia pariwisata Jepang yang sempat menurun akibat Tsunami pada 2011 kini mulai bangkit khususnya sejak dimudahkannya proses pengajuan visa kunjungan ke Jepang. Berdasarkan data dari Japan National Tourism Organization (JNTO), lonjakan arus wisatawan yang cukup signifikan tercatat pada tahun 2013 dari dua Negara di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam: Malaysia (meningkat 21%) dan Indonesia (meningkat 37%).

Hal ini pun semakin menggiatkan upaya dari pemerintah Jepang untuk memperbaiki pelayanan dan mengakomodir kebutuhan wisatawan Muslim yang biasanya akan menjawab “halal food” dan “praying place” saat ditanya apa yang harus ditingkatkan dari pariwisata Negara ini. Apalagi saat ini Jepang tengah mengejar target capaian 20 juta wisatawan saat Olimpiade Tokyo pada 2020 nanti. Seminar-seminar yang ditujukan untuk mengedukasi pengelola Hotel, agen travel, maupun pemilik restoran tentang bagaimana memfasilitasi wisatawan muslim pun marak diselenggarakan oleh pemerintah di kota-kota tujuan wisata di Jepang.

Dukungan yang besar pun ditunjukkan oleh pemerintah daerah dan lembaga-lembaga pengelola pariwisata. Mereka kerap mengadakan beragam event dengan mengundang warga muslim di Jepang untuk mempromosikan tak hanya tempat wisata tapi juga sekaligus tempat makan yang aman bagi muslim karena terjamin kehalalannya. Beberapa event yang pernah saya ikuti antara lain adalah Mukojima-Hanamachi Experimental Muslim Tour, Walk around tour in Asakusa for Muslim, dan Halal Ennichi, Motchitsuki, and Washoku party for Muslim in Sano city, yang insya Allah akan saya tuliskan lebih detail pada kesempatan mendatang.

pizap.com14269463789442
Dokumentasi kegiatan Tour for Muslim oleh Halal Media Japan
Photos courtesy: Koleksi pribadi & Halal Media Japan
Melalui event-event ini saya bisa merasakan sendiri betapa seriusnya pemerintah Jepang dalam merespon perkembangan Islam di negaranya. Restoran-restoran bersertifikat halal semakin marak bermunculan. Ramen yang dahulu mustahil untuk dinikmati oleh muslim di Jepang, kini versi halalnya dengan mudah dapat ditemukan baik di restoran maupun dalam bentuk kemasan instan. Dan tak hanya makanan khas Jepang seperti Karage, Sushi, Udon, Soba, namun juga makanan Italia, India, hingga Chinese food pun kini bisa dinikmati secara halal. Fasilitas umum seperti Bandara dan Shopping Mall yang menyediakan area khusus bagi muslim untuk beribadah pun semakin bertambah.
pizap.com14269465238681
Salah satu kedai yang menyediakan halal Ramen di Asakusa
Photos courtesy: Halal Media Japan

pizap.com14269466926951
Halal Udon di Bandara Narita
Photos courtesy: Halal Media Japan

Tes
Prayer room di Narita airport, Osaka station, dan Takashimaya shopping mall
Photos courtesy: Halal Media Japan

Hal lain yang menarik adalah penyematan kata “halal” untuk hampir setiap hal yang ditujukan untuk menarik warga maupun wisatawan muslim. Sehingga kini selain halal Café yang alhamdulillah semakin marak, kita bisa jumpai munculnya halal Hotel bahkan halal karaoke! Saya sempat merasa lucu dan penasaran dengan penggunaan istilah tersebut ^^. Ternyata maksud penyematan kata halal tersebut adalah untuk menandakan bahwa fasilitas yang bersangkutan mengakomodir kebutuhan muslim, mulai dari menyediakan makanan dan minuman halal, tempat wudhu, hingga tempat sholat lengkap dengan perlengkapan pendukungnya.
karaoke menu halal
Karaoke yang menyajikan menu halal dan tempat sholat
Picture courtesy: karaokemanekineko.jp

Hotel Select Inn
Select Inn, salah satu “Halal Hotel” yang terletak di kota Sano
Picture courtesy: travel.rakuten.com
Saya merasa beruntung dan sangat bersyukur melihat perkembangan Islam di Jepang saat ini yang amat pesat dibandingkan pada 2012 lalu saat saya pertama kali menginjakkan kaki di sini. Semoga di masa mendatang Allah SWT kan terus memberi kemudahan agar cahaya Islam makin benderang di bumi matahari terbit ini, dan Jepang pun akan semakin muslim friendly. Aamiin ^^


Referensi:
https://www.facebook.com/tokyocamii
http://www.halalfriendlyhotel.com/
http://www.halalmedia.jp/archives/470/halal-udon-narita-airport/
http://www.jnto.org.sg/for_muslim_visitors.html
http://www.karaokemanekineko.jp/campaign/karaoke-maneki-neko–yotsuya-3chome-shinjuku-.html
http://www.muslimdaily.net/artikel/santai/dalam-sehari-10-warga-negara-jepang-masuk-islam.html
http://travel.rakuten.com/hotel/info/145478/